Diantara
rahasia terbesar dari keberhasilan orang-orang yang namanya terukir dalam
sejarah Islam adalah kesungguhan mereka dalam melibatkan Pencipta mereka, Sang
pemilik ilmu yaitu Allah SWT. Hal ini seperti yang dilakukan oleh lbnu Sina
yang melibatkan dan mendekatkan diri dengan Allah, Rabb Semesta Alam. Hal ini
seperti tergambar dalam pernyataan
berikut:
"Apabila
suatu masalah terlalu besar bagi saya, saya pergi ke mesjid dan berdoa,
menyebut nama Sang Pencipta segala sesuatu, sampai pintu gerbang yang
sebelumnya tertutup bagi saya terbuka dan masalah yang sebelumnya kompleks
menjadi sederhana. Setiap kali malam turun, saya kembali pulang, menyalakan
lampu di depan saya dan menyibukkan
diri
dengan membaca dan menulis. Apabila mengantuk atau merasa lelah, saya minum
segelas air, supaya tenaga saya pulih" (Hort, Edwin P., Arab Science, Thomas
Nelson, Nashville, 1975, hal.66.dalam Hoohbhoy, Pervez. 1997. Islam dan Sains:
Pertarungan Menegakkan Rasionalitas. Penerbit Pustaka:Bandung).
Inilah
yang ditunjukkan oleh master kedokteran ini, tatkala menghadapi banyak
rintangan, penyelidikan yang
membingungkan, maka ibnu sina akan meninggalkan buku-bukunya, mengambil air wudhu, lalu pergi ke masjid dan terus sholat sampai datang hidayah yang memberi petunjuka untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitannya. Pada Iarut malam dia akan melanjutkan kegiatan belajarnya, menstimulasi perasaannya kadangkala dengan segelas susu kambing, dan bahkan dalam mimpinya masalah akan mengikutinya dan memberinya solusi. (Wikipedia)
membingungkan, maka ibnu sina akan meninggalkan buku-bukunya, mengambil air wudhu, lalu pergi ke masjid dan terus sholat sampai datang hidayah yang memberi petunjuka untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitannya. Pada Iarut malam dia akan melanjutkan kegiatan belajarnya, menstimulasi perasaannya kadangkala dengan segelas susu kambing, dan bahkan dalam mimpinya masalah akan mengikutinya dan memberinya solusi. (Wikipedia)
Hal
yang sama juga sebagaimana yang ditunjukkan oleh Ibnu Taymiyah, seorang
mujtahid sekaligus mujahid di masa kekhilafahan Islam berjaya.
Apabila
ia sedang membahas satu ilmu maka Ibnu Taimiyah akan berdoa kepada Allah seraya
berkata, "Wahai gurunya Adam dan Ibrahim, ajarilah akuI". Atau kadang-kadang
Ibnu Taimiyah akan pergi ke suatu mesjid yang cukup jauh, lalu menghempaskan
keningnya ke tanah (bersujud) memohon kepada Allah seraya berkata, "Wahai
gurunya Ibrahim, pahamkanlah akuI" (al-Abdat, Muhammad. 1989. Surat-Surat
Ibnu Taimiyah dari Balik Penjara. Pustaka Mantiq: Solo. Hal 12-13)
Tidakkah
kita terinspirasi oleh sikap Ibnu Sina atau Ibnu Taymiah ini?Bukankah
seringkali kita lupa untuk sekedar membacakan doa belajar atau mengucapkan
basmallah. Tak heran bila dalam redaksi doa belajar menunjukkan bahwa kita
meminta kepahaman dari
Allah bukan atas kecerdasan kita semata-mata:
“Rabbi
Jidnii I/man Warjuqni fahman birahmatika Yaa Arhamar Raahimiin"
(Tuhanku,
tambahkanlah aku ilmu dan berikan aku rizqi kepahaman dengan rahmat-Mu Wahai
Yang Maha Pengasih)
Jadi,
kita mendapatkan ilmu dan kepahaman adalah semata-mata karena rahmat Allah
bukan yang lain. Sehlngga alangkah sombongnya orang yang mengaku paling tinggi ilmunya,memiliki
pemahaman paling mumpuni padahal tidak ada yang bisa menyaingi Allah sebagai
Sang Pemilik llmu. Semoga kita terinspirasi dengan "Mencari ilmu dengan
melibatkan Sang Pemilik ilmu"
Sumber
: Indira S Rahmawaty, S.IP.,M.AG. 2009.Ibnu Sina: Tokoh Islam, Master
Kedokteran Dunia.CV Media Mutiara Salim
Related Post :
0 komentar:
Post a Comment