Thursday, March 19, 2015

Mencari Ilmu Dengan Melibatkan SANG PEMILIK ILMU



Diantara rahasia terbesar dari keberhasilan orang-orang yang namanya terukir dalam sejarah Islam adalah kesungguhan mereka dalam melibatkan Pencipta mereka, Sang pemilik ilmu yaitu Allah SWT. Hal ini seperti yang dilakukan oleh lbnu Sina yang melibatkan dan mendekatkan diri dengan Allah, Rabb Semesta Alam. Hal ini seperti tergambar dalam pernyataan berikut:
"Apabila suatu masalah terlalu besar bagi saya, saya pergi ke mesjid dan berdoa, menyebut nama Sang Pencipta segala sesuatu, sampai pintu gerbang yang sebelumnya tertutup bagi saya terbuka dan masalah yang sebelumnya kompleks menjadi sederhana. Setiap kali malam turun, saya kembali pulang, menyalakan lampu di depan saya dan menyibukkan
diri dengan membaca dan menulis. Apabila mengantuk atau merasa lelah, saya minum segelas air, supaya tenaga saya pulih" (Hort, Edwin P., Arab Science, Thomas Nelson, Nashville, 1975, hal.66.dalam Hoohbhoy, Pervez. 1997. Islam dan Sains: Pertarungan Menegakkan Rasionalitas. Penerbit Pustaka:Bandung).

Inilah yang ditunjukkan oleh master kedokteran ini, tatkala menghadapi banyak rintangan, penyelidikan yang
membingungkan, maka ibnu sina akan meninggalkan buku-bukunya, mengambil air wudhu, lalu pergi ke masjid dan terus sholat sampai datang hidayah yang memberi petunjuka untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitannya. Pada Iarut malam dia akan melanjutkan kegiatan belajarnya, menstimulasi perasaannya kadangkala dengan segelas susu kambing, dan bahkan dalam mimpinya masalah akan mengikutinya dan memberinya solusi. (Wikipedia)

Hal yang sama juga sebagaimana yang ditunjukkan oleh Ibnu Taymiyah, seorang mujtahid sekaligus mujahid di masa kekhilafahan Islam berjaya.

Apabila ia sedang membahas satu ilmu maka Ibnu Taimiyah akan berdoa kepada Allah seraya berkata, "Wahai gurunya Adam dan Ibrahim, ajarilah akuI". Atau kadang-kadang Ibnu Taimiyah akan pergi ke suatu mesjid yang cukup jauh, lalu menghempaskan keningnya ke tanah (bersujud) memohon kepada Allah seraya berkata, "Wahai gurunya Ibrahim, pahamkanlah akuI" (al-Abdat, Muhammad. 1989. Surat-Surat Ibnu Taimiyah dari Balik Penjara. Pustaka Mantiq: Solo. Hal 12-13)

Tidakkah kita terinspirasi oleh sikap Ibnu Sina atau Ibnu Taymiah ini?Bukankah seringkali kita lupa untuk sekedar membacakan doa belajar atau mengucapkan basmallah. Tak heran bila dalam redaksi doa belajar menunjukkan bahwa kita meminta kepahaman dari Allah bukan atas kecerdasan kita semata-mata:
“Rabbi Jidnii I/man Warjuqni fahman birahmatika Yaa Arhamar Raahimiin"
(Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu dan berikan aku rizqi kepahaman dengan rahmat-Mu Wahai Yang Maha Pengasih)

Jadi, kita mendapatkan ilmu dan kepahaman adalah semata-mata karena rahmat Allah bukan yang lain. Sehlngga alangkah sombongnya orang yang mengaku paling tinggi ilmunya,memiliki pemahaman paling mumpuni padahal tidak ada yang bisa menyaingi Allah sebagai Sang Pemilik llmu. Semoga kita terinspirasi dengan "Mencari ilmu dengan melibatkan Sang Pemilik ilmu"


Sumber : Indira S Rahmawaty, S.IP.,M.AG. 2009.Ibnu Sina: Tokoh Islam, Master Kedokteran Dunia.CV Media Mutiara Salim


Related Post : 

MAKALAH MADZAHIB MU’ASHIRAH I “MAJELIS MUJAHIDIN INDONESIA”





0 komentar:

Post a Comment