BAB IV
BERBAGAI PENDEKATAN
DALAM BELAJAR MENGAJAR
Dalam kegiatan belajar mengajar yang
berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. Guru dan anak didiklah yang
mengerakkannya. Interaksi yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang
memaknainya dengan menciptakan lingkungan yang bernilai edukatif demi
kepentingan anak didik dalam belajar. Guru ingin memberikan layanan yang
terbaik bagi anak didik, dengan menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan
menggairahkan. Guru berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang
arif dan bijaksana, sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara
dua guru dengan anak didik.
Ketika kegiatan belajar mengajar itu
berproses, guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat, serta mau
memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya. Semua kendala yang terjadi
dan dapat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar, baik yang berpangkal
dari perilaku anak didik maupun yang bersumber dari luar diri anak didik, harus
guru hilangkan, dan bukan membiarkannya. Karena keberhasilan belajar mengajar
lebih banyak ditentukan oleh guru dalam mengelola kelas.
Dalam mengajar, guru harus pandai
menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembamngan yang bisa
memgikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap
dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam
menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam
pengajaran.
A.
Pendekatan Individual
Di kelas ada sekelompokanak didik.
Merekadudukdi kursi masing-masing. Mereka berkolompok dari dua sampai lima
orang. Di depan mereka ada meja untuk membaca dan menulis atau untuk meletakkan
fasilitas belajar. Mereka belajar dengan gaya yang berbeda-beda. Perilaku mereka
juga bermacam-macam. Cara mengemukakan pendapat, cara berpakaian, daya serap
tingkat kecerdasan, dan sebagainya, selalu ada variasinya. Masing-masing anak
didik memang mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dari satu anak
didik dengan anak didik lainnya.
Perbedaan individual anak didik
tersebut memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pengajaran harus
mamperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual ini. Dengan kata lain,
guru harus melakukan pendekatan individual dalam strategi belajar mengajarnya. Bila
tidak, maka strategi belajar tuntas atau mastery learning yang menuntut
penguasaan penuh kepada anak didik tidak pemah menjadi kenyataan. Paling tidak
dengan pendekatan individual dapat diharapkan kepada anak didik dengan tingkat
penguasaan optimal.
Pada kasus-kasus tertentu yang timbul
dalam kegiatan belajar mengajar, dapat diatasi dengan pendekatan individual.
Misalnya, untuk menghentikan anak didik yang suka bicara. Caranya dengan memisahkan
/ memindahkan salah satu anak didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak
yang cukup jauh. Anak didik yang suka bicara ditempatkan pada kelompok anak
didik yang pendiam.
Pendekatan individual mempunyai arti
yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat
memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan
kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya
selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas.
Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan
pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.
B.
Pendekatan Kelompok
Dalam kegiatan belajar mengajar
terkadang ada juga guru yang menggunakan pendekatan lain, yakni pendekatan
kelompok. Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan perlu digunakan
untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Hal ini di sadari bahwa
anak didik adalah sejenis makhluk homo socius, yakni makhluk yang
berkecenderungan untuk hidup bersama.
Dengan pendekatan kelompok,
diharapkan dapat ditumbuh-kembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap
anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri
mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di kelas. Tentu
saja sikap ini pada hal-hal yang baik saja. Mereka sadar bahwa hidup ini saling
ketergantungan, seperti ekosistem dalam mata rantai kehidupan semua makhluk
hidup di dunia. Tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri
tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak langsung, disadari atau
tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan makhluk tertentu.
Anak didik dibiasakan hidup bersama,
bekerja sama dalam kelompok, akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan
kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu mereka yang mempunyai
kekurangan. Sebaliknya, mereka yang mempunyai kekurangan dengan rela hati mau
belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan, tanpa ada rasa minder. Persaingan
yang positif pun terjadi dikelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar
yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni anak didik yang aktif, kreatif, dan
mandiri.
Ketika guru ingin menggunakan
pendekatan kelompok, maka guru harus sudah mempertimbangkan bahwa hal itu tidak
bertentangan dengan tujuan, fasilitas belajar pendukung, metode yang akan
dipakai sudah dikuasai, dan bahan yang akan diberikan kepada anak didik memang cocok
didekati dengan pendekatan kelompok. Karena itu,pendekatan kelompok tidak bisa
dilakukan secara sembarangan, tetapi harus mempertimbangkan hal-hal lain yang
ikut mempengaruhi penggunaannya.
Dalam pengelolaan kelas, terutama
yang berhubungan dengan penempatan anak didik, pendekatan kelompok sangat
diperlukan. Perbedaan individual anak didik pada aspek biologis, intelektual,
dan psikologis dijadikan sebagai pijakan dalam melakukan pendekatan kelompok.
Beberapa pengarang mengatakan,
keakraban atau kesatuan kelompok ditentukan oleh tarikan-tarikan interpersonal,
atau saling menyukai satu sama lain. Yang mempunyai kecenderungan menamakan keakraban
sebagai tarikan kelompok adalah merupakan satu-satunya faktor yang menyebabkan
kelompok bersatu.
Keakraban kelompok ditentukan oleh
beberapa faktor, yaitu:
1.
Perasaan diterima atau disukai teman-teman;
2.
Tarikan kelompok;
3.
Teknik pengelompokan oleh guru;
4.
Partisipasi/keterlibatan dalam kelompok;
5.
Penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara mencapainya;
6.
Struktur dan sifat-sifat kelompok. Sedang sifat-sifat
kelompok itu adalah:
a.
Suatu multi personalia dengan tingkatan keakraban
tcrtentu;
b.
Sualu sistcm interaksi;
c.
Suatu organisasi atau struktur;
d.
Merupakan suatu motif tenentu dan tuj uan bersama;
e.
Merupakan suatu kekuatan atau standar perilaku
tertentu;
f.
Pola perilaku yang dapat diobservasi yang disebut
kepribadian.
Akhirnya, guru dapat memanfaatkan
pendekatan kelompok demi untuk kepentingan pengelolaan pengajaran pada umumnya
dan pengelolaan kelas pada khususnya.
C.
Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada
permasalahan anak didik yang bermasalah, maka guru akan berhadapan dengan
permasalahan anak didik yang bervariasi. Setiap masalah yang dihadapi oleh anak
didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan.
Dalam belajar, anak didik mempunyai
motivasi yang berbeda. Pada satu sisi anak didik memiliki motivasi yang rendah,
tetapi pada saat lain anak didik mempunyai motivasi yang tinggi. Anak didik
yang satu bergairah belajar, anak didik yang lain kurang bergairah belajar.
Sementara sebagian besar anak belajar, satu atau dua orang anak tidak ikut
belajar. Mereka duduk dan berbicara (berbincang-bincang) satu sama lain tentang
hal-hal lain yang terlepas dari masalah pelajaran.
Dalam mengajar, guru yang hanya
menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam
waktu relatif lama. Bila terjadi perubahan suasana kelas, sulit menormalkannya kembali.
Ini sebagai tanda adanya gangguan dalam proses belajar mengajar. Akibatnya,
jalannya pelajaran kurang menjadi efektif. Efisiensi dan efektivitas pencapaian
tujuan pun jadi terganggu, disebabkan anak didik kurang mampu berkonsentrasi. Metode
yang hanya satu-satunya dipergunakan tidak dapat diperankan, karena memang
gangguan itu terpangkal dari kelemahan metode tersebut. karena itu, dalam
mengajar kebanyakan guru menggunakan beberapa metode dan jarang sekali
menggunakan satu metode.
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru
bisa saja membagi anak didik ke dalam beberapa kelompok belajar. Tetapi dalam
hal ini, terkadang diperlukan juga pendapat dan kemauan anak didik. Bagaimana
keinginan mereka masing-masing. Boleh jadi dalam suatu pertemuan ada anak didik
yang suka belajardalam kelompok, tetapi ada juga anak didik yang senang belajar
sendiri. Bila hal ini terjadi, maka ada dua kemungkinan yang terjadi yaitu,
belajar dalam kelompok dan belajar sendiri, terlepas dari kelompok, tetapi
masih dalam pengawasan dan bimbingan guru.
Permasalahan yang dihadapi oleh
setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pun akan
lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Misalnya, anak didik yang tidak
disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan bcrbeda pemecahannya dan menghendaki
pendekatan yang berbeda-beda pula Demikian juga halnya terhadap anak didik yang
membuat keributan. Guru tidak bisa menggunakan teknik pemecahan yang sama untuk
memecahkan permasalahan yang lain. Kalaupun ada, itu hanya pada kasus tertentu.
Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah dalam pembicaraan ini didekati
dengan “pendekatan bervariasi. ”
Pendekatan bervariasi bertolak dari
konsepsi permasalahan yang dihadapi oleh
setiap anak didik dalam belajar bermacam-macam. Kasus yang biasanya muncul
dalam pengajaran dengan berbagai motif, sehingga diperlukan variasi teknik
pemecahan untuk setiap kasus. Maka kiranya pendekatan bervariasi ini sebagai
alat yang dapat guru gunakan untuk kepentingan pengajaran.
D.
Pendekatan Edukatif
Apa pun yang guru lakukan dalam
pendidikan dan pengajaran dengan tujuan untuk mendidik, bukan karena motif-motif
lain, seperti dendam, gengsi, ingin ditakuti, dan sebagainya.
Anak didik yang telah melakukan
kesalahan, yakni membuat keributan di kelas ketika guru sedang memberikan
pelajaran, misalnya, tidak tepat diberikan sanksi hukum dengan cara memukul
badannya hingga luka atau cidera. Ini adalah tindakan sanksi hukum yang tidak bernilai
pendidikan. Guru tclah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah menggunakan
teori power, yakni teori kekuasaan untuk menundukkan orang lain. Dalam
pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan,
karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak
didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan
edukatif. Setiap tindakan, sikap,dan perbuatan yang guru lakukan bernilai pendidikan,dengan
tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma susila,
norma moral, norma sosial, dan norma agama.
Cukup banyak sikap dan perbuatan yang
harus guru lakukan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak didik.
Salah satu contohnya, misalnya, ketika lonceng tanda masuk kelas telah
berbunyi, anak-anak jangan dibiarkan masuk dulu, tetapi suruhlah mereka bebaris
di depan pintu masuk dan perintahkanlah ketua kelas untuk mengatur barisan. Semua
anak perempuan berbaris dalam kelompok jenisnya. Demikian juga semua anak
laki-laki, berbaris dalam kelompok sejenisnya. Jadi, barisan dibentuk menjadi
dua dengan pandangan terarah ke pintu masuk. Di sisi pintu masuk guru berdiri
sambil mengontrol bagaimana anak-anak berbaris di depan pintu masuk kelas.
Semua anak dipersilakan masuk oleh ketua kelas. Mereka pun satu per satu masuk
kelas, mereka satu per satu menyalami guru dan mencium tangan guru sebelum
dilepas. Akhimya, semua anak masuk dan pelajaran pun dimulai.
Contoh di atas menggambarkan
pendekatan edukatif yang telah dilakukan oleh guru dengan menyuruh anak didik
berbaris di depan pintu masuk kelas. Guru telah meletakkan tujuan untuk membina
watak anak didik dengan akhlak yang mulia. Guru telah membimbing anak didik,
bagaimana cara memimpin kawan-kawannya dan anak-anak lainnya, membina bagaimana
cara menghargai orang lain dengan cara mematuhi semua perintahnya yang bernilai
kebaikan. Betapa baiknya jika semua sekolah (TK, SD atau SLTP) melakukan hal
yang demikian itu. Mungkin kewibawaan guru yang dirasakan mulai memudar sekarang
ini dapat dimunculkan kembali dan tetap melekat pada pribadi guru. Sekaranglah
saatnya mengedepankan pendidikan kepribadian kepada anak didik dan jangan hanya
pendidikan intelektual serta keterampilan semata, karena akan menyebabkan anak
tumbuh sebagai seorang intelektual atau ilmuwan yang berpribadi kering.
Guru yang hanya mengajar di kelas,
belum dapat menjamin terbentuknya kepribadian anak didik yang berakhlak mulia.
Demikian juga halnya dengan guru yang mengambil jarak dengan anak didik. Kerawanan
hubungan guru dengan anak didik disebabkan komunikasi antara guru dengan anak
didik kurang berjalan harmonis. Kerawanan hubungan ini menjadi kendala bagi
guru untuk melakukan pendekatan edukatif kepada anak didik yang bermasalah.
Guru yang jarang bergaul dengan anak
didik dan tidak mau tahu dengan masalah yang dirasakan anak didik, membuat anak
didik apatis dan tertutup atas apa yang dirasakannya. Sikap guru yang demikian
kurang dibenarkan dalam pendidikan, karena menyebabkan anak didik menjadi orang
yang introver (tertutup).
Kasuistis yang terjadi di sekolah biasanya
tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam jenis dan tingkat kesukarannya. Hal ini
menghendaki pendekatan yang tepat. Berbagai kasus yang terjadi, selain ada yang
dapat didekati dengan pendekatan individual, ada juga yang dapat didekati dengan
pendekatan kelompok, dan ada pula yang dapat didekati dengan pendekatan
bervariasi. Namun yang penting untuk diingat adalah bahwa pendekatan individual
harus berdampingan dengan pendekatan edukatif; pendekatan kelompok harus
berdampingan dengan pendekatan edukatif, dan pendekatan bervariasi harus
berdampingan dengan pendekatan edukatif. Dengan demikian, semua pendekatan yang
dilakukan guru harus bernilai edukatif, dengan tujuan untuk mendidik. Tindakan
guru karena dendam, marah, kesal, benci, dan sejenisnya bukanlah termasuk
perbuatan mendidik, karena apa yang guru lakukan itu menurutkan kata hati atau untuk
memuaskan hati.
Selain berbagai pendekatan yang
disebutkan di depan, ada lagi pendekatan-pendekatan lain. Berdasarakan
kurikulum atau Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Pendidikan Agama
Islam SLTP Tahun 1994 disebutkan lima macam pendekatan untuk pendidikan
agama Islam, yaitu pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan
emosional, pendekatan rasional, dan pendekatan fungsional. Kelima macam
pendekatan ini diajukan, karena pendidikan agama Islam di sekolah umum
dilaksanakan melalui kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang satu sama lainnya
saling menunjang dan saling melengkapi. Kelima pendekatan tersebut dijelaskan
sebagai berikut:
a.
Pendekatan Pengalaman
Experience is the -best teacher, pengalaman adalah guru yang terbaik.
Pengalaman adalah guru bisu yang tidak pernah marah. Pengalaman adalah guru
yang tanpa jiwa, namun selalu dicari oleh siapa pun juga. Belajar dari
pengalaman adalah lebih baik daripada sekadar bicara, dan tidak pemah berbuat
sama sekali. Belajar adalah kenyataan yang ditunjukkan dengan kegiatan fisik.
Karena itu, the proses of learning is doing, reacting, undergoing,
experiencing. The products of learning are all achieved by the learner through
his own activity. (H.C. witherington dan W.H. Burton, 1986: 57)
Meskipun pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama
hidup, namun tidak semua pengalaman tidak bersifat mendidik (edukative experience),
karena ada pengalaman yang tidak bersifat mendidik (misedukative experience).
Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, jika-guru tidak membawa anak ke arah
tujuan pendidikan, akan tetapi menyelewengkan dari tujuan itu, misalnya
“mendidik anak menjadi pencopet.” Karena itu, ciri-ciri pengalaman yang
edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak (meaningful),
kontinu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan, dan menambah
integlasi anak, Demikianlah pendapat Witherington.
Betapa tingginya nilai suatu pengalaman, maka disadari akan pentingnya
pengalaman itu bagi perkembangan jiwa anak. Sehingga dijadikanlah pengalaman
itu sebagai suatu pendekatan. Makajadilah “pendekatan pengalaman” sebagai frase
yang baku dan diakui pemakaiannya dalam pendidikan. '
Untuk pendidikan agama Islam, pendekatan pengalaman yaitu suatu
pendekatan yang memberikan pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka
penanaman nilai-nilai keagamaan.Dengan pendekatan ini siswa diberi kesempatan
untuk mendapatkan pengalaman kmgamaan, baik secara individu maupun kelompok. Sebagai contohnya, adalah ketika bulan
Ramadhan tiba, semua kaum muslimin diwajibkan melaksanakan ibadah puasa.Dimalam
bulan Ramadhan biasanya setelah kaum muslimin selesai menunaikan Salat Tarawih
dilanjutkan dengan kegitan ceramah agama sekitar tujuh menit (kultum) yang disampaikan
oleh ulama atau da’i/ guru agama dengan penjadwalan yang telah ditentukan. Para
siswa dan siswi biasanya tidak ketinggalan untuk mendengarkan ceramah tersebut.
Kegiatan siswa ini tidak lain adalah untuk mendapatkan pengalaman keagamaan.
Kegiatan ini untuk siswa-siswa teltentu biasanya ditugaskan oleh gum mereka dan
kemudian mereka harus melaporkannya kepada guru dalam bentuk laporan tenulis
yang sudah ditandatangani oleh penceramah.
Untuk pendekatan ini, maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan,
antara lain adalah metode pemberian tugas (resitasi) dan tanyajawab mengenai
pengalaman keagamaan siswa.
b.
Pendekatan Pembidsaan
Pembiasaan adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih
kecil, pembiasaan ini sangat penting. Karena dengan pembiasaan inilah akhirnya suatu
aktivitas akan menjadi milik anak di kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan
membentuk suatu sosok manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya,
pembiasaan yang buruk akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang buruk
pula. Begitulah biasanya yang terlihat dan yang terjadi pada diri seseorang.
Karenanya, di dalam kehidupan bermasyarakat, kedua kepribadian yang
bertentangan ini selalu ada dan tidak jarang terjadi konflik di antara mereka.
Anak kecil tidak seperti orang dewasa yang dapat belpikir
abstrak. Anak kecil hanya dapat berpikir konkret. Kata-kata seperti
kebijaksanaan, keadilan, dan perumpamaan, adalah contoh kata benda abstrak yang
sukar dipikirkan oleh anak. Anak kecil belum kuat ingatannya, ia lekas
melupakan apa yang sudah dan baru terjadi. Perhatian mereka lekas dan mudah beralih
kepada hal-hal yang baru, yang lain, yang disukainya. (M. Ngalim Purwanto, 1 99
1 : 224)
Anak kecil memang belum mempunyai kewajiban, tetapi dia sudah
mempunyai hak, sepeni hak dipelihara, hak dilindungi, hak diberi makanan yang
bergizi, dan hak mendapatkan pendidikan. Salah satu cara untuk memberikan
haknya di bidang pendidikan adalah dengan cara memberikan kebiasaan yang baik
dalam kehidupan mereka. Berdasarkan pembiasaan itulah anak terbiasa menurut dan
taat kepada peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat, setelah mendapatkan
pendidikan kebiasaan yang baik di rumah. Pengaruhnya juga terbawa ke sekolah.
Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah dan kadang-kadang
makan waktu yang lama. Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar pula
untuk mengubahnya. Maka adalah penting, pada awal kehidupan anak, menanamkan
kebiasaan-kebiasaan yang baik saja dan jangan sekali-kali mendidik anak
berdusta, tidak disiplin, suka berkelahi, dan sebagainya. Tetapi tanamkanlah
kebiasaan sepeni ikhlas melakukan puasa, gemar menolong orang yang kesukaran,
suka membantu fakir dan miskin, gemar melakukan salat lima waktu, aktif berpartisipasi
dalam kegiatan yang baik-baik, dan sebagainya. Maka dari itu pengaruh
lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat tidak bisa dielakkan dalam hal
ini.
J.B. Watson (1991 : 291) berpendapat, bahwa reaksi-reaksi
kodrati yang dibawa sejak lahir itu sedikit sekali. Kebiasaan-kebiasaan itu terbentuk
dalam perkembangan, karena latihan dan belajar. Jadi, dalam masalah kebiasaan
ini, aliran Behaviorisme dari J .B. Watson dan aliran Empirisme
dari John Locke lebih dominan daripada aliran Nativisme dari Shcopenhour.
Bertolak dari pendidikan kebiasaan itulah yang menyebabkan kebiasaan
dijadikan sebagai pendekatan pembiasaan. Pendidikan agama Islam sangat penting
dalam hal ini, karena dengan pendidikan pembiasaan itulah diharapkan siswa
senantiasa mengamalkan ajaran agamanya. Maka dari itu pendekatan pembiasaan
dimaksudkan di sini, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
senantiasa mengamalkan ajaran agamanya. Dengan pendekatan ini siswa dibiasakan
mengamalkan ajaran agama, baik secara individual maupun secara kelompok dalam kehidupan
sehari-hari. Untuk itu maka metode mengajar yang perlu dipeitimbangkan, antara
lain adalah metode latihan (drill), pelaksanaan tugas, demonstrasi dan
pengalaman langsung di lapangan.
c.
Pendekatan Emosional
Emosi adalah gejala kejiwaan yang ada di dalam diri
seseorang. Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Seseorang yang mempunyai
perasaan pasti dapat merasakan sesuatu, baik perasaan jasmaniah maupun perasaan
rohaniah. Perasaan rohaniah di dalamnya ada perasaan intelektual, perasaan
estetis, perasaan etis, perasaan sosial, dan perasaan harga diri. Menurut
Chalijah Hasan (1994: 39) merasa adalah aktualisasi kerja dari hati sebagai
materi dalam struktur tubuh manusia, dan merasa sebagai aktivitas kejiwaan ini
adalah suatu pernyataan jiwa yang bersifat subjektif. Hal ini dilakukan dengan mengemukakan
suatu kesan senang atau tidak senang, dan umumnya tidak tergantung pada
pengamatan yang dilakukan oleh india.
Perasaan, menurut Abu Ahmadi dan widodo Supriyono( 1 991 : 36),
sebagai fungsi jiwa untuk dapat mempertimbangkan dan mengukur sesuatu menurut
“rasa senang dan tidak senang”, mempunyai sifat-sifat senang dan sedih/tidak
senang, kuat dan lemah, lama dan sebentar, relatif, dan tidak berdiri sendiri
sebagai pemyataan jiwa.
Ditambahkan lagi oleh mereka bahwa nilai perasaan bagi
manusia pada umumnya adalah dapat menyesuaikan diri dengan keadaan alam sekitar,
seseorang dapat ikut serta mengalami, menimbulkan rasa senasib dan sekewajiban
sebagai manusia (perasaan religius), dapat membedakan antara makhluk bahwa
manusia merupakan makhluk yang mempunyai perasaan;
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang tergugah perasaannya,
berarti emosinya tergugah. Orang yang emosional adalah orang yang cepat
tergugah perasaannya. Misalnya, menonton film sedih di TV, karena menyentuh
perasaannya, maka seseorang akan menangis atau sedih. Mendengar atau melihat
saudaranya seiman dan seagama menderita atau meninggal dunia akibat peperangan
antar bangsa di dunia, seseorang akan marah, sedih, mencaci-maki, atau
mengancam, dan sebagainya.
Dalam kehidupan sosial keagamaan, perasaan seiman dan seagama
mengikat perasaan seseorang sebagai orang yang beragama. Karena menyadari akan
suatu kewajiban yang dibebankan di pundaknya oleh hukum agama, maka dengan
kesadaran dia meyakini, memahami, dan menghayati ajaran agamanya itu. Demikian juga
halnya dalam kehidupan seseorang yang beragama, dia menyadari adanya ajaran
kitab sucinya yang menyuruh berbuat kebaikan dan menjauhi perbuatan yang
munkar. Perasaan keagamaan yang demikian tumbuh dan berkembang seiring dengan
bertambahnya usia seseorang, dari sejak anak hingga dewasa.
Emosi atau perasaan adalah sesuatu yang peka. Emosi akan memberi
tanggapan (respons) bila ada rangsangan (stimulus) dari luar diri
seseorang. Baik rangsangan verbal maupun nonverbal, mempengaruhi kadar emosi
seseorang. Rangsangan verbal itu misalnya ceramah, cerita, sindiran, pujian,
ejekan, berita, dialog, anj uran, perintah, dan sebagainya. Sedangkan
rangsangan nonverbal dalam bentuk perilaku berupa-sikap dan perbuatan.
Emosi mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kepribadian
seseorang. Itulah sebabnya pendekatan emosional yang berdasarkan emosi atau
perasaan dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan dan
pengajaran; terutama untuk pendidikan agama Islam. Pendekatan emosional
dimaksudkan di sini adalah suatu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi siswa
dalam meyakini, memahami, dan menghayati ajaran agamanya. Dengan pendekatan ini
diusahakan selalu mengembangkan perasaan keagamaan siswa agar bertambah kuat keyakinannya
akan kebesaran Allah swt. dan kebenaran ajaran agamanya. Untuk mendukung
tercapainya tujuan dari pendekatan emosional ini, metode mengajar yang perlu
dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah, bercerita, dan sosiodrama.
d.
Pendekatan Rasional
Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh sang Maha
Pencipta, yaitu Allah swt. Manusia adalah makhluk yang sempurna diciptakan. Manusia
berbeda dengan makhluk lainnya yang diciptakan oleh Tuhan. Perbedaannya
terletak pada akal. Manusia mempunyai akal, sedangkan makhluk lainnya seperti
binatang dan sejenisnya tidak mempunyai akal. Jadi, hanya manusialah yang dapat
berpikir, sedangkan makhluk lainnya tidak mampu berpikir.
Dengan kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana perbuatan
yang baik dan mana perbuatah yang buruk, mana kebenaran dan mana kedustaan dari
sesuatu ajaran atau perbuatan. Dengan akal pula dapat membuktikan dan membenarkan
adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta atas segala sesuatu di dunia ini.
Walaupun disadari keterbatasan akal untuk memikirkan dan memecahkan sesuatu,
tetapi diyakini pula bahwa dengan akal dapat dicapai ketinggian ilmu
pengetahuan dan. penghasilan teknologi modern. Itulah sebabnya manusia
dikatakan sebagai homo sapien, semacam makhluk yang berkecenderungan
untuk berpikir.
Akal atau rasio memang mempunyai potensi untuk menaklukkan dunia.
Tetapi jangan sampai mempertuhankan akal. Karena hal itu akan menggelincirkan
keimanan terhadap ajaran agama. Sebaiknya, akal dijadikan alat untuk
membuktikan kebenaran ajaran-ajaran agama. Dengan begitu, keyakinan terhadap
agama yang dianut bertambah kokoh.
Di sekolah anak didik dididik dengan berbagai ilmu
pengetahuan. Perkembangan berpikir anak dibimbing ke arah yang lebih baik, sesuai
dengan tingkat usia anak. Perkembangan berpikir anak mulai dari yang konkret
sampai yang abstrak. Maka pembuktian suatu kebenaran, dalil,prinsip, atau hukum
menghendaki dari hal-hal yang sangat sederhana menuju ke kompleks. Pembuktian
tentang sesuatu yang berhubungan dengan masalah keagamaan harus sesuai dengan
tingkat berpikir anak. Kesalahan pembuktian akan berakibat fatal bagi perkembangan
jiwa anak. Usaha yang terpenting bagi guru adalah bagaimana memberikan peranan kepada
akal (rasio) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama, termasuk
rnencoba memahamilhikmah dan fungsi ajaran agama.
Karena keampuhan akal (rasio) itulah akhimya dijadikan pendekatan
yang disebut pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di
sekolah. Untuk mendukung pemakaian pendekatan ini, maka metode mengajar yang
perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi,
kerja kelompok, latihan, dan pemberian tugas.
e.
Pendekatan F ungsional
Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah
bukanlah hanya sekadar pengisi otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan
anak, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Anak dapat memanfaatkan
ilmunya untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Bahkan yang lebih penting adalah ilmu pengetahuan dapat membentuk kepribadian
anak. Anak dapat merasakan manfaat dari ilmu yang didapatnya di sekolah. Anak
mendayagunakan nilai guna dari suatu ilmu sudah fingsional di dalam diri anak.
Pelajaran agama yang diberikan di kelas bukan hanya untuk memberantas
kebodohan dan pengisi kekosongan intelektual, tetapi untuk diimplementasikan ke
dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang demikian itulah yang pada akhirnya hendak
dicapai oleh tujuan pendidikan agama di sekolah dalam berbagai jenis dan
tingkatan. Karena itu, kurikulum pun disusun sesuai dengan kebutuhan siswa di
masyarakat.
Pendekatan fimgsional yang diterapkan di sekolah diharapkan
dapat menjembatani harapan tersebut. Untuk memperlicin jalan ke arah itu, tentu
saja diperlukan penggunaan metode mengajar. Dalam hal ini ada beberapa metode
mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode latihan,
pemberian tugas, ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi.
E.
Pendekatan Keagamaan
Pendidikan dan pelajaran di sekolah
tidak hanya memberikan satu atau dua macam mata pelajaran, tetapi terdiri dari
banyak mata pelajaran. Semua mata pelajaran itu pada umumnya dapat dibagi
menjadi mata pelajaran umum dan mata pelajaran agama. Berbagai pendekatan dalam
pembahasan terdahulu dapat digunakan untuk kedua jenis mata pelajaran ini.
Tentu saja penggunaannya tidak sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan
tujuan pembelajaran yang dicapai. Dalam praktiknya tidak hanya digunakan satu,
tetapi bisa juga penggabungan dua atau lebih pendekatan.
Khususnya untuk mata pelajaran umum,
sangat berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar
nilai budaya ilmu itu tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Dengan penerapan
prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi, guru dapat
menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum. Tentu saja
guru harus menguasai ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan mata pelajaran yang
dipegang. Mata pelajaran biologi, misalnya, bukan terpisah dari masalah agama,
tetapi ada hubungannya. Cukup banyak dalil agama yang membahas masalah biologi.
Persoalannya sekarang terletak, mau atau tidalmya guru mata pelajaran tersebut
mencari dan menggali dalil-dalil dimaksud dan menafsirkannya guna mendukung penggunaan
pendekatan keagamaan dalam pendidikan dan pengajaran. Surah Yaasiin,
ayat 34, dan ayat 36, adalah bukti nyata bahwa pelajaran biologi tidak bisa
dipisahkan dari ajaran agama. Surah Yaasiin ayat 37,38, 39, dan 40
adalah dalil-dalil nyata pendukung pendekatan keagamaan dalam mata pelajaran fisika.
Akhimya, pendekatan agama dapat
membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa, yang
pada akhirnya nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diyakini,
dipahami, dihayati, dan diamalkan selama hayat siswa di kandung badan.
F.
Pendekatan Kebermaknaan
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan
dan memahami gagasan pikiran, pendapat, dan perasaan, secara lisan maupun
tulisan. Bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama di Indonesia yang dianggap
penting untuk tujuan penyerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni
budaya, dan pembinaan hubungan dengan bangsa-bangsa lain di dunia .
Dalam rangka penguasaan bahasa
Ingrris tidak bisa mengabaikan masalah pendekatan yang harus digunakan dalam
proses belajar mengajan.Kegagalan penguasaan bahasa Inggris oleh siswa, salah
satu sebabnya adalah kurang tepatnya pendekatan yang digunakan oleh guru selain
faktor lain seperti faktor sejarah, fasilitas, dan lingkungan serta kompetensi
guru itu sendiri. Kegagalan pengajaran tersebut tentu saja tidak boleh
dibiarkan begitu saja, karena akan menjadi masalah bagi siswa dalam setiap jenjang
pendidikan yang dimasukinya. Karenanya perlu dipecahkan. Salah satu altematif ke
arah pemecahan masalah tersebut diajukanlah pendekatan baru, yaitu pendekatan
kebermaknaan. Beberapa konsep penting yang menyadari pendekatan ini diuraikan
sebagai berikut:
1.
Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang
diwujudkan melalui Struktur (tata bahasa dan kosa kata). Dengan demikian,
struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna (gagasan, pikiran, pendapat,
dan perasaan).
2.
Makna ditentukan oleh lingkup kebahasaan maupun
lingkup situasi yang merupakan konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran
bahasa yang natural, didukung oleh pemahaman lintas budaya.
3.
Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda,
baik secara lisan maupun tertulis. Suatu kalimat dapat mempunyai makna yang berbeda
tergantung pada situasi saat kalimat itu digunakan. Jadi keragaman ujaran
diakui keberadaannya dalam bentuk bahasa lisan atau tertulis.
4.
Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi
melalui bahasa tersebut, sebagai bahasa sasaran, baik secara lisan maupun
tertulis. Belajar berkomunikasi ini perlu didukung oleh pembelajaran
unsur-unsur bahasa sasaran.
5.
Motivasi belajar siswa merupakan faktor utama yang
menentukan keberhasilan belajarnya. Kadar motivasi ini banyak ditentukan oleh kadar
kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran memiliki siswa yang
bersangkutan. Dengan kata lain, kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan
pembelajaran memiliki peranan yang amat penting dalam keberhasilan belajar
siswa.
6.
Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi
lebih bermakna bagi siswa jika berhubungan dengan pengalaman, minat, tata
nilai, dan masa depannya. Kanena itu, pengalaman siswa dalam lingkungan,minat,
tata nilai, dan masa depannya harus dijadikan penimbangan dalam pengambilan
keputusan pengajaran dan pembelaj aran untuk membuat pelajaran lebih bermakna
bagi siswa.
7.
Dalam proses belajar-mengajar, siswa merupakan subjek
utama, tidak hanya sebagai objek belaka. Karena itu, ciri-ciri dan kebutuhan mereka
harus dipertimbangkan dalam segala keputusan yang terkait dengan pengajaran.
8.
Dalam proses belajar-mengajar guru berperan sebagai
fasilitator yang membantu siswa mengembangkan keterampilan berbahasanya.
Akhimya, perlu diikhtisarkan bahwa
ada berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam pendidikan dan
pengajaran, yaitu pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan
bervariasi, pendekatan edukatif pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan,
pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fimgsional, pendekatan
keagamaan, dan pendekatan kebermaknaan.
0 komentar:
Post a Comment