Berikut metode Thaif tersebut:
1. Mulai segala sesuatunya dengan niat yang ikhlas mengharap ridha
Allah sepenuhnya.
2. Mengahadap ke dinding atau pembatas pandangan lainnya yang
berlatar polos. Hal ini dimaksudkan agar kita fokus untuk menghafal.
3. Tinggalkan segala sesuatu yang menghalangi atau menganggu kita
dalam proses menghafal Alquran. Gangguan tersebut misalnya gadget, surat kabar,
isteri, dan sebagainya.
4. Menganggap diri bahwa dalam keadaan seperti itulah kita akan
membaca Alquran di hadapan Allah di Hari Akhir kelak.
5. Memperhatikan dan membaca dengan seksama 3 ayat awal. Dengan
sebenar-benarnya memperhatikan, baik dari segi maknanya, hukum bacaannya, tata
letaknya, dsb. Silakan dibaca 3 kali seperti keadaan tersebut. Kemudian angkat
kepala, tutup mata atau hadapkan kepala ke dinding polos tadi, baca ayat
pertama 3 kali atau sampai lengket, begitupun ayat kedua. Setelah itu, ulangi
ayat 1 dan 2 (silakan baca dahulu atau langsung hafalkan). Kemudian begitupun
ayat ke-3 dengan proses yang sama
APABILA ayatnya panjang maka cukup dipotong-potong beberapa bagian pada tempat yang pas dari segi maknanya, kemudian hafalkan dengan cara sebelumnya.
Antara orang yang satu dengan
lainnya berbeda-beda kemampuan mereka dalam menghafalkan Alquran. Ada yang bisa
dengan 30 menit, ada yang kurang dari itu, namun juga ada yang membutuhkan
waktu tambahan untuk menghafal satu halaman Alquran. Namun, hal tersebut
bukanlah menjadi hambatan, keresahan, apatah lagi kegalauan hati bagi orang
yang telah berniat mewakafkan diri sebagai penghafal Alquran. Barangsiapa yang
bersungguh-sungguh maka ia akan behasil. Barangsiapa yang berjalan pada
lintasannya maka ia akan sampai pada tujuannya. Dan barang siapa yang bersabar
maka keberuntungan niscaya menaunginya, insya Allah.
Catatan:
1. Alquran jangan pernah diganti-ganti. Silakan beli mushaf Alquran
yang sama, taruh di kamar satu, di tas satu, di kendaraan satu, di masjid satu,
dan di tempat-tempat yang menjadi kebiasaan kita membaca Alquran. Atau paling
tidak, kita harus konsisten menggunakan mushaf yang sama di mana pun kita
hendak menghafal atau memuroja’ahnya.
2. Harus segera disetor. Kita harus mencari orang yang kita anggap
fasih dalam membaca Alquran beserta hukum-hukum bacaanya. Bahkan kalau perlu
orang yang sudah hafidz 30 juz dan telah mendapatkan sanad hafalan. Silakan
bawa pensil, kemudian beritahu kepada orang yang kita tempati menyetor agar
menggarisbawahi ayat yang salah ketika kita membacanya. Tujuannya ialah agar
kita semakin mengingat letak kesalahan kita dalam menghafal sehingga tidak
mengulangnya lagi.
3. Mencari suasana, waktu, dan tempat yang pas untuk menghafal
Alquran. Tentu berbeda ketika kita menghafal dalam keadaan tenang pada waktu
sepertiga malam, setelah salat subuh, atau salat magrib di masjid pula daripada
kita menghafal pada saat hati sedang gunda gulana galau gelisa pada waktu
teriknya siang di dalam pasar pula. Intinya, silakan cari suasana, waktu, dan
tempat yang nyaman menurut kita untuk menghafal Alquran. Ada baiknya juga kita
ke tempat menghafal Alquran (Tahfidzul Qur’an) terdekat. Hal ini bertujuan
untuk memacu semangat dan adrenalin kita karena kita punya teman menghafal
sekaligus saingan dalam menyetor hafalan.
4. Ada tim pengawas dengan membuat kelompok menghafal. Maksudnya
supaya ada yang mengontrol sehingga pada waktu yang seharusnya kita menghafal
tidak kita gunakan untuk bercerita dengan tema tanpa makna.
5. Suara harus keluar. Hal ini bertujuan agar kita juga menggunakan
kemampuan audio (pendengaran) kita sehingga proses menghafal menjadi lebih
maksimal bukan semata-mata menjadikan kemampuan visual (penglihatan) sebagai
senjata kita dalam mengahafal.
Related Post:
Related Post:
0 komentar:
Post a Comment